Jumat, 13 April 2012

PERKEMBANGAN BELAJAR KELAS RENDAH

BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Sebagai seorang guru sangat perlu memahami perkembangan peserta didik tersebut meliputi perkembangan fisik, perkembangan sosio emosional dan bermuara pada perkembangan intelektual, perkembangan fisik dan perkembangan sosial mempunyai hubungan yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau mental ataupun perkembangan kognitif siswa. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik sangat di perlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang akan dilaksanakan.
Suasana yang kondusif akan menciptakan proses belajar yang akan lebih mudah diterima oleh peserta didik. Dan seorang guru akan lebih mudah untuk mentransfer ilmu pada peserta didiknya.
Peserta didik kelas 1, 2, dan 3 merupakan subjek yang perlu mendapatkan perhatian sejak dini. Usia mereka berada pada rentangan usia lima sampai dengan sembilan tahun. Pada fase usia ini hampir seluruh aspek perkembangan kecerdasan, misalnya IQ, EQ, dan SQ sedang bertumbuh dan berkembang. Biasanya tingkat perkembangan pada anak tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh (holistik) dan hanya mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana.
Di Indonesia kesiapan peserta didik untuk sekolah untuk mengantarkan peserta didik kelas awal (1 s.d.3) sekolah dasar cukup rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang telah masuk Taman Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara kelas satu dan dua Sekolah Dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.



1.2       Rumusan  Masalah
                     1.       Bagaimana definisi perkembangan belajar  kelas rendah ?
                     2.       Apa prinsip-prinsip perkembangan belajar kelas rendah ?
                     3.       Apa ciri-ciri perkembangan belajar kelas rendah ?
                     4.       Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan belajar kelas rendah ?
                     5.       Bagaimanakah karakteristik perkembangan belaar kelas rendah ?
                     6.       Bagaimana peran guru untuk meningkatkan perkembangan belajar kelas rendah ?

1.3       Tujuan
                     1.       Agar pembaca dapat mengetahui perkembangan belajar kelas rendah.
                     2.       Agar pembaca dapat mengetahui prinsip-prinsip dan ciri-ciri perkembangan belajar kelas rendah.
                     3.       Agar pembaca lebih memahami karakteristik perkembangan belajar kelas rendah.
                     4.       Agar pembaca dapat mengerti peran guru dalam meningkatkan perkembangan belajar kelas rendah.
                     5.       Agar pembaca lebih mengetahui  faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan belajar kelas rendah.













BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Definisi Perkembangan Belajar
Belajar merupakan proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau di ubah melalui latihan atau pengalaman. Atau bisa disebut juga merupakan suatu proses usaha yang di lakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Perkembangan dapat diartikan sebagai proses berlangsungnya perubahan dalam diri seseorang, yang membawa penyempurnaan dalam kepribadiannya. Sedangkan perkembangan belajar merupakan suatu proses “perubahan”. Perubahan yang dimaksudkan disini tentu saja perubahan yang sesuai dengan perubahan yang dikehendaki dalam  pengertian belajar. Contohnya : seseorang yang melakukan aktifitas belajar dan di akhir dari aktifitasnya itu telah memperoleh perubahan dalam dirinya dengan pemilikan pengalaman baru, maka individu itu dikatakan telah belajar. Tetapi perlu di ingat bahwa perubahan yang terjadi akibat belajar adalah perubahan yang bersentuhan dengan aspek kejiwaan dan memperoleh tingkah laku, sedangkan perubahan tingkah laku akibat mabuk karena meminum minuman keras akibat tabrakan, gila, dan sebagainya bukanlah kategori perubahan perkembangan belajar. Jadi perkembangan belajar adalah perubahan, dan tidak setiap perubahan adalah sebagai hasil dari belajar. Misalnya seorang siswa sering mendapatkan nilai jelek ketika ulangan, dan dia sering di cemo’oh teman sekelasnya. Dari peristiwa tersebut seorang siswa itu termotivasi untuk berubah. Akhirnya dia rajin belajar dan hasil dari belajar itu tidak sia-sia, sehingga dia mampu mendapatkan nilai yang lebih dari teman-temannya.
2.2       Prinsip-Prinsip Perkembangan Belajar
            a. Prinsip Motivasi
                        Motivasi merupakan pendorong yang dapat melahirkan kegiatan bagi seseorang. Seseorang yang bersemangat untuk menyelesaikan suatu kegiatan karena ada motivasi yang kuat dalam dirinya. Motivasi sebagai suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang kedalam bentuk suatu kegiatan nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan yang telah di cita-citakan itu menjadi alat motivasi yang melahirkan kegiatan bagi orang itu untuk mencapainya dengan sekuat tenaga dan pikiran. Siapapun tidak menyangka bahwa tanpa motivasi, seseorang tidak akan melakukan kegiatan belajar. Minat tanpa motivasi hanyalah sekedar berminat, tetapi belum tentu berbuat. Motivasi merupakan faktor penentu dan berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar. Motivasi dapat menentukan baik tidaknya dalam mencapai tujuan sehingga semakin besar motivasinya akan semakin besar kesuksesan, tampak gigih, tidak mau menyerah, giat membaca buku untuk meningkatkan prestasinya dalam belajar. Fungsi motivasi yang terpenting adalah sebagai pendorong timbulnya aktivitas, ssebagai pengarah dan sebagai penggerak untuk melakukan suatu pekerjaaan.
b. Prinsip Pemusatan Perhatian
                         Dalam belajar diperlukan pemusatan perhatian. Tanpa ini proses belajar akan sia-sia. Ketidakmampuan seseorang berkonsentrasi dalam belajar disebabkan buyarnya perhatian terhadap suatu obyek. Perlu disadari betapa pentingnya pemusatan perhatian dalam belajar. Tanpa pemusatan perhatian, motivasi yang besarpun tidak akan banyak dapat berbuat untuk membantu mengatasinya. Konsentrasi (pemusatan perhatian) adalah pemusatan fungsi jiwa terhadap sesuatu masalah atau obyek dengan mengosongkan pikiran dari hal-hal lain, yang dianggap mengganggu.
c. Prinsip Pengulangan
                         Belajar bukanlah berproses dalam kehampaan, tetapi berproses dengan penuh makna. Biasanya kesan-kesan yang telah didapat dari belajar itu tersimpan dengan rapi dalam komputer otak, tetapi tidak akan dapat bertahan lebih lama di dalam sadar. Lama kelamaan kesan-kesan itu akan tersimpan dbawah sadar, dikarenakan (kemungkinan) sangat jarang dipergunakan. Agar kesan-kesan mudah diingat, diangkat ke alam sadar diperlukan frekuensi pengulangan dengan memanfaatkan kesan-kesan beruoa ilmu pengetahuan itu sesering mungkin. Artinya ilmu pengetahuan yang didapat dari hasil belajar harus dimanfaatkan untuk menjawab berbagai masalah kehidupan, bukan membiarkannya  mengisi otak tanpa arti.
d. Prinsip Yakin Akan Kegunaan
                         Malas adalah fenomena jiwa yang tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu. Malas adalah sifat yang tidak kreatif. Salah satu penyebab orang malas belajar adalah karena orang tidak tahu atau tidak yakin akan kegunaan ilmu pengetahuan. Orang-orang yang hidup di masa lalu gemar mencari ilmu karena mereka yakin akan kegunaan ilmu. Dengan ilmulah tatanan kehidupan pribadi, keluarga dan kelompok sosial di masyarakat dapat di ubah dari alam kehidupan tradisional ke alam kehidupan modern. Perjuangan-perjuangan ilmu itu kini telah tiada, tetapi saksi-saksi bisu sejarah tidak bisa didustai. Segudang ilmu yang terpatri dalam literatur dan setumpuk peradaban peninggalan masa lalu ada di depan mata adalah bukti nyata dari kegunaan ilmu.
e. Prinsip Pengendapan
                         Belajar terus menerus selama berjam-jam adalah suatu kegiatan belajar yang kurang menguntungkan. Karena terlalu lama belajar tanpa istirahat akan menimbulkan kelelahan. Konsentrasi belajar pun akhirnya terpecah. Belajar tidak perlu di proses habis-habisan tanpa mengenal lelah. Lima belas menit atau setengah jam istirahat lebih baik, sehingga sejumlah kesan yang telah di dapat dengan mudah diorganisir di dalam otak. Bila pengertian telah di dapat terhadap apa yang telah dipelajari dapat di lanjutkan ke bacaan yang lain. Demikianlah betapa besar peranan istirahat pengendapan untuk mendapatkan pengertian dari apa yang dipelajari. Istirahat pengendapan di ibaratkan air keruh yang di endapkan untuk mendapatkan air yang jernih, sejernih kesan-kesan yang di endapkan ketika belajar. Oleh karena itu, kejernihan pengertian dari sejumlah kesan yang di dapat dari kegiatan belajar merupakan ilmu pengetahuan yang tak ternilai harganya.
f. Prinsip Pengutaran Hasil Belajar
                         Strategi yang jitu untuk mengingat kembali kesan-kesan yang baru di dapatkan dari kegiatan belajar adalah dengan cara mengutarakan kembali hasil belajar. Cara mengutarakannya adalah dengan memakai kata-kata sendiri dengan mengambil pokok pikiran dari apa yang telah dibaca itu sebagai landasan berpijak ingat prinsip pengambilan pengertian pokok yang telah di bahas di depan. Utarakanlah kesan-kesan itu menurut gaya bahasa sendiri dan tidak perlu menghafal kata demi kata atau kalimat demi kalimat seperti yang terdapat di dalam buku yang selesai di baca itu.
2.3     Ciri-Ciri Perkembangan Belajar Kelas Rendah
a. Perubahan yang terjadi secara sadar
          Ini berarti individu yang belajar akan menyadari terjadinya perubahan itu atau sekurang-kurangnya individu merasakan telah terjadi adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya ia menyadari bahwa pengetahuannya bertambah, kecakapannya bertambah, kebiasaannya bertambah. Jadi, perubahan tingkah laku individu yang terjadi karena mabuk atau dalam keadaan tidak sadar, tidak termasuk kategori perubahan dalam pengertian belajar. Karena individu yang bersangkutan tidak menyadarai akan perubahan itu.
b. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional
                         Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri individu berlangsung terus menerus dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan berikutnya dan akan berguna bagi kehidupan atau pun proses belajar berikutnya. Misalnya jika seorang anak belajar menulis, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak bisa menulis menjadi bisa menulis.
c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
                         Dalam perbuatan belajar, perubahan-perubahan itu selalu bertambah dan tertuju untuk memperoleh suatu yang lebih baik dari sebelumnya. Makin banyak usaha belajar itu dilakukan, makin banya dan makin baik perubahan yang diperoleh. Perubahan yang bersifat aktif artinya bahwa perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu itu sendiri. Misalnya perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam.
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
          Perubahan yang bersifat sementara (temporer) yang terjadi hanya untuk beberapa saat saja, seperti berkeringat, keluar air menangis, menangis dan sebagainya tidak dapat digolongkan sebagai perubahan dalam pengertian belajar. Perubahan yang terjadi karena proses bersifat menetap (permanen) ini berarti tingkah laku yang terjadi setelah belajar akan bersifat menetap. Misalnya kecakapan seorang anak dalam memainkan piano setelah belajar, tidak akan hilang, melainkan akan terus dimiliki dan bahkan makin berkembang bila terus dipergunakan atau dilatih.
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
                         Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku itu terjadi karena ada tujuan yang ingin dicapai. Perubahan belajar terarah pada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya seorang yang belajar mengetik, sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik, atau tingkat kecakapan mana yang dicapainya. Dengan demikian, perbuatan belajar yang senantiasa terarah pada tingkah laku yang telah ditetapkannya.
Sedangakan ciri-ciri perkembangan dapat dibedakan secara ringkas karakteristik siswa sekolah dasar pada kelas rendah yaitu:
                            1.         Belum Mandiri
                            2.         Belum ada rasa tanggung jawab
                            3.         Penilaian terhadap dunia luar masih egosentris.
                            4.         Belum menunjukkan sikap kritis masih berfikir yang fiktif.
2.4         Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Belajar  Kelas Rendah
Ada 2 faktor yang mempengaruhi perkembangan belajar kelas rendah yaitu :
1.                   Faktor Internal / Pribadi
2.                   Faktor Eksternal/ Lingkungan
1.      Faktor Internal
a.       Intelegensi
Taraf Intelegensi seseorang dapat tercermin dalam prestasi sekolahnya di semua mata pelajaran (Winkel, 1997). Jadi ada korelasi antara intelegensi dengan kesuksesan di sekolah (Gage & Berliner, 1992). Peserta didik dengan taraf intelegensi yang tinggi di harapkan dapat mencapai prestasi belajar yang lebih baik dibanding peserta didik yang memiliki taraf intelegensi yang lebih rendah. Namun intelegensi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan prestasi akademik.
b.      Motivasi
Winkel (1997) mengatakan bahwa motivasi adalah daya penggerak yang menjadi aktif pada saat-saat tertentu dimana ada kebutuhan untuk mencapai tujuan. Sedangkan Gage dan Berliner (1992) menjelaskan bahwa motivasi adalah sesuatu yang menggerakkan individu dari perasaan bosan menjadi berminat untuk melakukan sesuatu. Motivasi merupakan tenaga dorong selama tahapan proses belajar yang berfungsi untuk (Sukadji,2000) :
1.      Mencari dan menemukan informasi mengenai hal-hal yang ddipelajari.
2.      Menyerap informasi dan menyetapnya.
3.      Mengubah informasi yang didapat ini menjadi suatu hasil (pengetahuan, perilaku, sikap, ketrampilan dan kreativitas)
Secara umum motivasi terbagi menjadi motivasi internal dan eksternal.
Motivasi Internal mengacu pada diri sendiri, misalnya kegiatan belajar dihayati dan merupakan kebutuhan untuk memuaskan rasa ingin tahu.Motivasi eksternal mengacu pada faktor diluar dirinya. Siswa dengan motivasi eksternal akan membutuhkan pemberian pujian atau pemberian nilai sebagai hadiah atas prestasi yang diraihnya (Djiwandono, 2002). Kedua komponen ini bersifat konstektual artinya ada pada seseorang sehubungan dengan sesuatu kegiatan yang dilakukan. Oleh karena itu motivasi dapat berubah sesuai dengan waktu.
c.       Kepribadian
Kepribadian merupakan suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik seseorang yang menentukan bagaimana individu dapat menyesuaikan diri secara unik dengan lingkungannya (Allport dalam Hurlock, 1978). Kepribadian dapat diubah dan dimunculkan dalam bentuk tingkah laku. Sistem psikofisik adalah kebiasaan, sikap,nilai,keprcayaan, keadaan emosi dan dorongan. Sistem inilah yang akan mendorong seseorang untuk menentukan penyesuaian dirinya sebagai hasil belajar atau pengalaman.
2.      Faktor Eksternal
a.         Lingkungan Rumah
Lingkungan rumah terutama orang tua memegang peranan penting serta menjadi guru bagi anak dalam mengenal dunianya. Orang tua adalah pengasuh, pendidik dan membantu proses sosialisasi anak. Utami Munandar (1999) mengatakan bahwa semakn tinggi tingkat pendidikan orang tua, maka seakin baik prestasi anak. Termasuk juga sejauh mana keluarga mampu menyediakan fasilitas tertentu untuk anak (televisi, internet dan buku bacaan).
b.         Lingkungan Sekolah
Menurut Omrod (2006) lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan yang nyaman sehingga anak terdorong untuk belajar dan berprestasi. Ada beberapa karakterisrik lingkungan sekolah yang nyaman sebagai tempat belajar (Burstyn & Steven dalam Omrod,2006), yaitu :
1)      Sekolah mempunyai komitmen untuk mendukungsemua usaha murid agar sukses baik dalam bidang akademik maupun sosial.
2)      Adanya kurikulum yang menantang dan terarah.
3)      Adanya perhatian dan kepercayaan murid serta orang tua terhadap sekolah.
4)      Adanya ketulusan dan keadilan bagi semua murid, baik untuk murid dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda ras maupun etnik.
5)      Adanya kebijakan dan peraturan sekolah yang jelas. Misalnya panduan perilaku yang baik, konsekuensi yang konsisten, penjelasan yang jelas, kesempatan menjalin interaksi sosial serta kemampuan menyelesaikan masalah.
6)      Adanya partisipasi murid dalam pembuatan kebijakan sekolah.
7)      Adanya mekanisme tertentu sehingga siswadapat menyampaikan pendapatnya secara terbukatanpa rasa takut.
8)      Mempunyai tujuan untuk meningkatkan perilaku pro sosial seperti berbagi informasi, membantu dan bekerja sama.
9)      Membangun kerjasama dengan komunitas keluarga dan masyarakat.
10)  Mengadakan kegiatan untuk mendiskusikan isu-isu menarik dan spesial yang berkaitan dengan murid.
Sedangkan di kelas sebaiknya kelas cukup besar dengan jumlah murid yang tidak terlalu banyak sehingga guru dapat memonitor setiap siswa. Kelas yang baik dan produktif adalah kelas yang nyaman secara tata ruang, memunculkan motivasi internal siswa untuk belajar, kegiatan guru yang terarah serta kegiatan monitor terhadap siswa (Gage & Berliner, 1992)
2.5       Karakteristik Perkembangan Belajar Kelas Rendah
Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD
Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa perkembangan anak yang pendek tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa ini  seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.

Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting. Selain itu, perkembangan anak dari sisi sosial, terutama anak yang berada pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.

Perkembangan anak usia 6-8 tahun dari sisi emosi antara lain anak telah dapat mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar tentang konsep nilai misalnya benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan, meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.

2.6       Proses Perkembangan Belajar Kelas Rendah
1. Mendengarkan
                        Mendengarkan adalah salah satu aktivitas belajar. Setiap orang yang belajar yang di sekolah pasti ada aktivitas mendengar. Ketika seorang guru menggunakan metode ceramah, maka setiap siswa di haruskan mendengarkan apa yang guru sampaikan. Menjadi pendengar yang baik dituntut dari mereka. Disela-sela ceramah itu ada aktivitas mencatat hal-hal yang penting. Di akui memang bahwa aktivitas mendengarkan bukan satu-satunya aktivitas belajar. Hal ini disebabkan karena ada orang yang tuna rungu belajar tidak menggunakan aktivitas mendengarkan, tetapi hanyalah melalui visual atau penglihatan. Mereka belajar hanya melalui gerakan-gerakan tangan dengan menggunakan simbol-simbol tertentu yang di bakukan, seperti yang terlihat di TV pada acara dunia dalam berita, seorang laki-laki atau wanita tampil dengan menggerak-gerakkan tangannya mengiringi berita yang di syiarkan.
2. Memandang
                        Memandang adalah mengarahkan penglihatan sesuatu ke suatu obyek. Aktivitas memandang berhubungan erat dengan mata. Karena dalam memandang itu mata lah yang memegang peranan penting. Tanpa mata tidak mungkin terjadi aktivitas memandang dilakukan. Di kelas seorang pelajar memandang papan tulis yang berisikan tulisan yang baru saja guru tulis. Tulisan yang pelajar pandang itu menimbulkan kesan yang selanjutnya tersimpan dalam otak. Tapi perlu di ingat bahwa tidak semua aktivitas memandang berarti belajar. Aktivitas memandang dalam arti belajar di sini adalah aktivitas memandang yang bertujuan sesuai dengan kebutuhan untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang positif. Aktivitas memandang tanpa tujuan bukanlah termasuk perbuatan belajar. Meski pandangan tertuju pada suatu obyek, tetapi tidak adanya tujuan yang ingin di capai, maka pandangan yang demikian tidak termasuk belajar.
3. Menulis atau mencatat
               Menulis atau mencatat merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari aktivitas belajar. Aktivitas mencatat yang bersifat menjiplak, mengkopi tidak dapat di katakan sebagai aktivitas belajar. Mencatat yang termasuk aktivitas belajar yaitu apabila dalam mencatat itu orang menyadari kebutuhan dan tujuannya, serta menggunakan seperangkat tertentu agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian tujuan belajar. Catatan sangat berguna untuk menampung sejumlah informasi, yang tidak hanya bersifat fakta-fakta, melainkan juga terdiri atas materi hasil analisis dari bahan bacaan.
4.    Membaca
Aktivitas membaca adalah aktivitas yang paling banyak di lakukan selama dilakukan belajar di sekolah. Membaca adalah jalan menuju ke pintu ilmu pengetahuan. Ini berarti untuk mendapatkan ilmu pengetahuan tidak ada cara lain yang harus di lakukan kecuali memperbanyak membaca. Kalau begitu membaca identik dengan mencari ilmu pengetahuan agar menjadi cerdas, dan mengabaikannya berarti kebodohan.
5.    Membuat ringkasan
Banyak orang yang merasa terbantu dalam belajarnya karena menggunakan ringkasan materi yang di buatnya. Ringkasan ini memang dapat membantu dalam hal mengingat atau mencari kembali materi dalam buku untuk masa-masa yang akan datang.
6.    Mengingat
Mengingat merupakan gejala psikologis. Perbuatan mengingat dilakukan bila seseorang bila seseorang sedang mengingat-ingat pesan yang telah dipunyai. Ingatan adalah kemampuan jiwa untuk memasukkan (Learning), menyimpan (retention), dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau. Jadi mengenai ingatan tersebut ada tiga fungsi, yaitu : Memasukkan, menyimpan, dan mengangkat kembali ke alam sadar.
                    Mengingat adalah salah satu aktivitas belajar. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah mengingat dalam belajar. Perbuatan mengingat jelas sekali terlihat ketika seseorang sedang menghafal bahan pelajaran, berupa dalil, kaidah, pengertian, rumus dan sebagainya.
7.    Berpikir
Berpikir adalah termasuk aktivitas belajar. Dengan berpikir orang memperoleh penemuan baru, setidak-tidaknya orang menjadi tau tentang hubungan antara sesuatu. Berpikir bukanlah sembarang berpikir, tetapi ada taraf tertentu, dari taraf berpikir yang rendah sampai taraf berpikir yang tinggi.
8.    Latihan atau praktek
Latihan atau praktek adalah konsep belajar yang menghendaki adanya penyatuan usaha mendapatkan kesan-kesan dengan cara berbuat. Belajar sambil berbuat dalam hal ini termasuk latihan. Latihan termasuk cara yang baik untuk memperkuat ingatan.

2.7       Peran Guru Untuk Meningkatkan Perkembangan Belajar Kelas Rendah

Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip, guru memegang dua tugas sekaligus masalah pokok, yakni pengajaran dan pengelolaan kelas.Tugas sekaligus masalah pertama, yakni pengajaran, dimaksudkan segala usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, Usman dalam salah satu bukunya mengemukakan bahwa suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur murid dan sarana pembelajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pengajaran. Di sini, jelas sekali betapa pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang efektif pula.
Berdasarkan pendapat di atas, jelas betapa pentingnya pengelolaan kelas guna menciptakan suasana kelas yang kondusif demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Pengelolaan kelas menjadi tugas dan tanggung jawab guru dengan memberdayakan segala potensi yang ada dalam kelas demi kelangsungan proses pembelajaran. Hal ini berarti setiap guru dituntut secara profesional mengelola kelas sehingga tercipta suasana kelas yang kondusif mulai dari awal hingga akhir pembelajaran.
Penciptaan suasana kelas yang kondusif guna menunjang proses pembelajaran yang optimal menuntut kemampuan guru untuk mengetahui, memahami, memilih, dan menerapkan pendekatan yang dinilai efektif menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam menunjang proses pembelajaran yang optimal.
Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya.
Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah laku sosial anak
Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman
Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya
Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan
Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur.
Kegagalan seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan.
Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang sangat penting dikuasai dalam rangka proses pembelajaran







BAB III
PENUTUP


3.1              Kesimpulan
Perkembangan adalah proses berlangsungnya perubahan dalam diri seseorang, yang membawa penyempurnaan dalam kepribadiannya.Peserta didik kelas I, II, dan III merupakan subjek yang perlu mendapatkan perhatian sejak dini. Usia mereka berada pada rentangan usia lima sampai dengan sembilan tahun. Pada fase usia ini hampir seluruh aspek perkembangan kecerdasan, misalnya IQ, EQ, dan SQ sedang bertumbuh dan berkembang. Biasanya tingkat perkembangan pada anak tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh (holistik) dan hanya mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana.
Kecenderungan anak usia 5-8 tahun (kelas rendah) lebih mudah menerima pengetahuan-pengetahuan baru karena anak usia tersebut lebih suka menerima hal-hal yang baru, guru pun harus memiliki cara-cara tersendiri agar peserta didik dalam usia tersebut mau mengikuti proses pembelajaran Seorang guru juga berperan sangat penting bagi perkembangan pesera didik kelas rendah. Salah satunya adalah perkembangan belajar karena seorang guru adalah sebagai contoh peserta didik.
3.2              Saran
Sebagai seorang guru sangat perlu memahami perkembangan peserta didik tersebut meliputi perkembangan fisik, perkembangan sosio, emosional dan bermuara pada perkembangan intelektual, perkembangan fisik dan perkembangan sosial mempunyai hubungan yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau mental ataupun perkembangan kognitif siswa. Pemahaman terhadap perkembangan peserta didik sangat di perlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang akan dilaksanakan.
Seorang guru harus bisa mengetahui perkembangan peserta didik untuk kelancaran proses belajar mengajar.
Pembentukan kemampuan siswa di sekolah dipengaruhi oleh proses belajar yang ditempuhnya. Proses belajar akan terbentuk berdasarkan pandangan dan pemahaman guru tentang karakteristik siswa dan juga hakikat pembelajaran. Untuk menciptakan proses belajar yang efektif, hal yang harus dipahami guru adalah fungsi dan peranannya dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu sebagai pembimbing, fasilitator, nara sumber, atau pemberi informasi. Proses belajar yang terjadi tergantung pada pandangan guru terhadap makna belajar yang akan mempengaruhi aktivitas siswa-siswanya. Dengan demikian, proses belajar perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Untuk mendukung hal tersebut, diperlukan pemahaman para guru mengenai karakteristik siswa dan proses pembelajarannya, khususnya di SD kelas rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu.1991.Psikologi Perkembangan.Jakarta : Rineka Cipta.
Hurlock, Elizabeth.1993.Perkembangan Anak.Jakarta : Erlangga.
Tini Sumartini, S.Pd. “Perkembangan Belajar Anak Usia Prasekolah” Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis (PPGT), Bandung.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar